Artikel

SPIRIT TAHAJUD (195) 1507: Saatnya Berdialog Dengan Allah

Kita semua pasti mempunyai
waktu-waktu khusus untuk berdialog dengan Allah. Kita punya kesempatan setiap
saat untuk bertemu Allah. Kita ini butuh bercengkrama dengan Allah. Berdialog
dengan Allah dapat menentramkan batin. Malang orang yang tak dapat berdialog
dengan-Nya. Semestinya kita tak perlu bersedih dan berduka yang berlebihan
menghadapi liku-liku kehidupan. Perubahan pasti terjadi, karena Dialah yang
menggariskannya. Allah telah menyediakan waktu-waktu khusus untuk kita bisa
berdialog, berdoa, memohon, mengadu, memuji kepada Allah Zat Yang Maha Agung
dan Maha Besar. Sehingga tak perlu mengeluh kepada orang terdekat kita. Cukup
Allah saja tempat bergantung kita. Hingga dada kita lega menghadapi kesulitan
hidup dan langkah kita mantap ringan melangkah menyusuri hidup menggapai rahmat
Allah di dunia dan di akhirat nanti. 

 

Saat banyak orang
tenggelam nyenyak dalam tidurnya, kita sucikan diri, kita gelar sajadah,
kemudian kita tegakkan shalat berdialog dengan-Nya. Di bacanya ayat-ayat-Nya
dengan khusyu’ dan khidmat. Terasa begitu dalam kebahagiaan, ketenangan, dan
kedamaian menyelinap di dasar hati saat berdialog dengan Allah. Bersimbah air
mata ketika merenungi kekhilafan diri. Jikalau seseorang membaca al-Qur’an
sesungguhnya dia telah berdialog dengan Allah. Demikian pula, ketika hamba
khusyu’ dalam shalatnya, sejatinya dia telah berdialog dengan Allah. Karena
itu, Allah tak akan menerima shalat orang yang lalai dan akan menerima shalat
orang yang khusyu’ seakan-akan kita berhadapan dengan Allah sedang berdialog
dengan-Nya. 

 

Sejatinya ada dialog antara
kita dengan Allah saat melakukan shalat. Coba kira renungkan bagaimana indahnya
dialog dalam bacaan surat al-Fatihah. Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu
‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam 
bersabda,

 

قَالَ اللهُ تَعَالَى: قَسَمْتُ الصَّلَاةَ بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي
نِصْفَيْنِ، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ الْعَبْدُ: {الْحَمْدُ لِلَّهِ
رَبِّ الْعَالَمِينَ} ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: حَمِدَنِي عَبْدِي، وَإِذَا قَالَ:
{الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ}، قَالَ اللهُ تَعَالَى: أَثْنَى عَلَيَّ عَبْدِي، وَإِذَا
قَالَ: {مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ}، قَالَ: مَجَّدَنِي عَبْدِي – وَقَالَ مَرَّةً فَوَّضَ
إِلَيَّ عَبْدِي – فَإِذَا قَالَ: {إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ} قَالَ:
هَذَا بَيْنِي وَبَيْنَ عَبْدِي، وَلِعَبْدِي مَا سَأَلَ، فَإِذَا قَالَ: {اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ
عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ} قَالَ: هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل

 

Allah berfirman: “Aku telah membagi shalat menjadi dua
bagian antara Aku dengan hamba-Ku. Dan hamba-Ku mendapatkan apa yang dia
minta.” Jika hamba-Ku berkata: “Alhamdulillahi Rabbil Alamiin”, Allah
berfirman: “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Jika ia mengatakan: “Ar Rahmanir
Rahiim.” Allah berfirman: “Hamba-Ku memuja-Ku.” Jika ia mengatakan: “Maliki
yaumiddin.” Allah berfirman: “Hamba-Ku memulyakan-Ku.” Jika ia mengatakan:
“Iyya kana’budu wa iyya ka nasta’in.” Allah berfirman: “Inilah bagian-Ku dari
hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku maka ia akan memperoleh apa yang ia minta.” Jika ia
berkata: “Ihdinash shiratal mustaqim, shiratal ladziina a’amta alaihim ghairil
maghduubi alaihim wala dhalliin.” Allah berfirman: “Ini bagian untuk hamba-Ku dan
bagi hamba-Ku apa saja yang ia minta.” (Shahih Muslim, Kitabus Shalat).

 

Kebahagiaan sungguh
terasa sekali karena memang benar-benar terjadi dialog antara kita dengan Allah
Yang Maha Agung. Tiap ucapan hamba didengar dan dijawab oleh-Nya. Penelusuran
terhadap perubahan huruf dan makna kalimat yang kita baca saat shalat menjadi
sebab kekhusyu’an kita. InsyaAllah dengan kekhusyu’an itulah Allah berkenan
menerima shalat kita. Dan tidak diterima dari shalat kita, kecuali apa yang
kita pahami dari shalat itu. Konsentrasi dan menghadirkan hati saat shalat
maupun munajat kepada Allah adalah syarat dikabulkannya permohonan kita. Karena
Allah tidak akan menerima orang yang berdoa sedangkan hatinya lalai. Rasulullah
SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima do’a dari hati yang
lalai.” (HR. Tirmidzi). 

 

وَمَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنۡ يُّكَلِّمَهُ اللّٰهُ اِلَّا وَحۡيًا
اَوۡ مِنۡ وَّرَآىٴِ حِجَابٍ اَوۡ يُرۡسِلَ رَسُوۡلًا فَيُوۡحِىَ بِاِذۡنِهٖ مَا يَشَآءُ‌ؕ
اِنَّهٗ عَلِىٌّ حَكِيۡمٌ

 

Allah swt. berfirman :
“Dan tidak ada bagi seorang manusia pun bahwa Allah berkata-kata dengan
dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan
mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya
apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana”.
(Asy Syura’ 51) 

 

Setiap orang bisa
berdialog dengan Allah, asal mau dan mengikuti cara serta prosedur yang telah
ditetapkan oleh Allah sendiri. Allah adalah penguasa tertinggi di Alam Jagat
Raya, Dia maha tinggi, Maha agung, Maha kuasa, Maha mulia, Maha terpuji…… dan
maha segala galanya. Kita adalah mahluk ciptaan-Nya yang sangat kecil dan
lemah. Diri kita sangat tidak berarti dan berharga jika dibandingkan dengan
alam semesta yang diciptakanNya ini. 

 

Sangat tidak wajar dan
tidak patut kalau kita ingin berdialog 
dengan Allah,  menggunakan cara
semau kita sendiri. Dia akan menutup pintu jika kita berkomunikasi dengan-Nya
secara seronok menggunakan cara kita sendiri. Allah telah menyiapkan perangkat
dan prosedur untuk berdialog dengan-Nya. Kita yang butuh pada-Nya bukan Dia
yang butuh pada kita. Ikutilah tata cara dan prosedur yang telah
ditetapkan-Nya. Dia akan menerima kita dengan senang dan penuh perhatian.
Nikmatilah berdialog dan bercakap cakap dengan-Nya. Dia siap menerima kita
dalam pembicaraan secara khusus seorang diri ataupun secara (berjama’ah). 

 

Fikiran dan hati
adalah alat utama untuk berdialog dengan Allah, kita tidak mungkin bertemu
Allah secara fisik. Kita harus melatih kepekaan hati dan fikiran untuk
berdialog dengan-Nya. Allah maha tahu tentang keadaan kita, Dia selalu menjawab
pertanyaan kita baik yang diucapkan secara lisan maupun dalam hati. Masalahnya
hati dan fikiran kita kurang peka sehingga tidak mampu menangkap isyarat atau
jawaban dari Allah. 

 

Untuk dapat menangkap
isyarat dari Allah kita harus melatih kepekaan hati dan fikiran untuk memahami
dan menangkap isyarat yang diberikan Allah kepada kita dalam kehidupan sehari
hari. Setiap saat Ia selalu mengingatkan kita akan berbagai hal yang merupakan
bimbingan , petunjuk atau peringatan akan adanya bahaya yang mengancam. Orang
yang hati dan fikirannya kusut dan kasar, tertutup berbagai dosa dan maksiat
tidak akan mampu menangkap isyarat tersebut. Merekalah orang yang hidup dalam
kegelapan, kebingungan, kesesatan dan terpuruk dalam penderitaan berkepanjangan
didunia dan akhirat.

 

Sholat dengan khusyu’ dan
benar adalah salah satu cara berkomunikasi dengan Allah, yang telah ditetapkan
oleh Allah sendiri. Maka Rasulullah bersabda : ”As-sholatu mi’rojul mu’min,
Sholat itu adalah Mi’rajnya orang mukmin“. Barang siapa yang ingin berdialog
dan bercakap cakap dengan Allah, lakukan-lah sholat dengan khusyu’ dan benar.
Kalau kita sudah terbiasa berdialog dengan Allah dalam sholat, kebiasan
berdialog itu akan muncul secara otomatis di luar sholat, ketika kita
menghadapi berbagai masalah. Insya Allah kita akan selalu mendapat
bembingan-Nya dalam mengatasi berbagai masalah yang menghampiri kita. 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button